Semesta Menunggu di Tahun yang Baru

Seperti yang lalu, aku kira cerita hebat akan kututup di tahun ini. Nyatanya tidak juga. Banyak hal yang tidak aku sampaikan jujur kepada diriku sendiri. Banyak juga perasaan baru yang pertama kali aku rasakan setelah puluhan tahun hidup.
Masih tentang kehilangan dan pertemuan.
Tahun ini menandai seribu hari semenjak Ibuku meninggal. Beberapa orang percaya, ketika seribu hari, jasadnya sudah menyatu sepenuhnya dengan tanah. Ini artinya, Ibuku sudah tidak lagi menyisakan bagiannya di bumi. berarti juga, mimpi tentang Ibu akan berkurang atau mungkin tidak lagi bermimpi tentangnya. Untuk kedua kalinya aku sampaikan, selamat tinggal Bu, maaf belum bisa memberimu bahagia. Sampaikan juga salam kami pada Sang pembawa rahmatan lil alamin, para Sohabat, dan kepada Sang Pencipta.
Waktu juga memintaku menjadi saksi atas hari berbahagia teman-temanku. Mereka menemukan pasangannya, hidup berdua, dan memulai fase yang baru. Ahh.. malam-malam selanjutnya aku akan kehilangan teman ngopi. Ini memang wajar, mereka harus memprioritaskan keluarga barunya. Lagi pula, memang sudah waktunya melepas status bujangan. Lalu alih-alih mengikuti langkah mereka, ironisnya, aku justru kehilangan yang terkasih di tahun ini. Singkatnya, hubungan kami yang sudah bertahun-tahun itu cukup sakit jika harus dilanjutkan.
Namun di tengah kehilangan itu, aku memulai lagi perjumpaanku dengan orang-orang lama.
Bulan Mei kemarin aku mendaki gunung bersama junior dan seniorku. Mereka adalah orang-orang yang pernah kutinggalkan dengan ribuan kesalahan yang kubuat di waktu lalu. Sekali lagi, kembali aku rasakan kehangatan rumah di sudut kampus gedung AS itu. Mendaki bersama mereka, seperti menyelami lembab dan sembab Coban Talun di penghujung Desember.
Ternyata yang lalu itu belum juga beranjak, hanya menunggu untuk disapa kembali.
Tidak sampai di situ, tahun ini juga membuka lagi perjumpaanku dengan sepupuku yang dulu tidak banyak bicara, kini kami mulai berbagi cerita. Juga dengan Mbak yang sempat renggang, bukan karena ada masalah, tapi rasanya saling menghindar untuk bicara. Seperti yang sudah aku ceritakan di ‘Bagaimana Jika yang Kamu Inginkan Datang Tanpa Diminta?’.
Dan sebagai penutup tahun, aku belajar tentang bahasa yang baru. Javascript. Mempelajari barisan code hingga membangun website blog Kuratif adalah sebagian hasilnya. Aku juga mulai rajin bersepeda puluhan kilo jauhnya tanpa mendengarkan musik dan jam tangan pintar.
Yah. Tahun ini cukup banyak kehilangan dan pertemuan. Mungkin ini cara semesta memberi pelajaran, ‘kamu harus merasakan kehilangan dan perbaiki hubungan dengan orang lama, sebelum dipertemukan dengan yang baru’.
Di tahun yang baru, apapun yang semesta tawarkan, aku akan menerimanya tanpa tergesa.
Untuk ibu, untuk mereka yang pernah meninggalkan, untuk kawan-kawanku dan saudaraku, semoga selamat selalu, ya!
