SMARA: TENTANG TUNAS CINTA YANG TUMBUH HINGGA MENJADI RIMBA KERINDUAN (BAGIAN 3)

Rimba Kerinduan
Kelegaan hatiku setelah menyampaikan perasaan padanya hanya bertahan 1 hari. Setelahnya pesan singkat itu dibalas dengan kalimat “maaf. Aku hanya menganggap kamu teman dekat, sama seperti lainnya, tidak lebih”. Terbayang pasti, bagaimana badai menghujani rimba cinta yang telah bersemai dengan lebat itu(?) aku bersyukur mengetahui perasaannya namun aku juga manusia yang tentunya menangis mendengar kalimat itu.
Aku mencoba menumbuhkan tunas baru. Namun tumbuhnya tak sama. Ia layu sebelum akhirnya bertumbuh. Aku pun tak berhasil menyemai tunas baru. Rimba cinta itu terlalu lebat hingga tak menyisakan ruang di hatiku untuk tunas yang lain.
Hari demi hari kulalui dengan membawa kecanggungan atas dirinya. Kami tak sedekat dulu lagi. Itu pula yang dirasakannya. Ia seakan tahu, setelah aku mengungkapkan perasaanku, hubungan kami takkan bisa dekat lagi. Kecanggungan itu dirasakan pula oleh jalanan setapak penghubung bangunan sekolah barat dan timur. Tanpa kata kami berjalan beriringan. Dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku hanya ingin waktu menghentikan semuanya. Terutama kecanggungan itu. Di sisi lain, validasi tentang dirinya pun muncul. Benar memang. Dia adalah alasan duniaku terasa lebih dari cukup.
Beberapa bulan berlalu. Aku kehilangannya. Tidak hanya perasaannya namun juga raganya. Aku tidak sedih mendengarnya kembali bersama perempuan itu. Aku tahu memang itu yang membuatnya bahagia kembali. Namun aku tak kuasa mendengar ia harus kembali kepada Sang Pencipta. Aku akhirnya sepenuhnya sadar telah kehilangannya setelah separuh nisan yang bertulisakan namanya itu tertanam.
Rimba cinta perlahan menjadi rimba kerinduan. Hari-hariku hampa. Bulan-bulanku sepi. Tahun-tahunku hanya bisa menahan rindu. Rimba rindu yang menjadi tempat cinta pertama bersembunyi. Menjadi ruang paling sunyi dalam lubuk hatiku.
Cinta pertamaku memang tak berhasil namun ia berhasil meninggalkan ruang dalam hatiku. Ruang yang penuh dengan ingatan manis. Ruang yang kadang kala getir. Meski raganya tak lagi bersamaku namun ia tetap hidup dalam ruang sunyi itu. Tunas cinta yang tumbuh hingga menjadi rimba kerinduan selamanya akan menjadi bagian dalam diriku. Aku tak berniat menebangnya. Bukan untuk menyiksa tapi mengingatkan bahwa aku pernah benar-benar mencinta.
