SMARA: TENTANG TUNAS CINTA YANG TUMBUH HINGGA MENJADI RIMBA KERINDUAN (BAGIAN 2)

Gemuruh Rimba Cinta
Memasuki masa sekolah menengah atas di tahun pertama menjadi gemuruh bagi rimba cinta. Aku mengetahui bahwa dia menjalin hubungan dengan perempuan lain dan perempuan itu berada dikelas yang sama denganku. Setiap pulang sekolah, aku melihat dia berjalan bersama dengan perempuan itu. Sedih sekali melihatnya namun saat senyum itu merekah diwajahnya, tanpa sadar, bahagia pun datang dilubuk hatiku. Meski senyumnya jelas bukan karenaku dan bukan untukku.
Meski saat pulang sekolah dia bersama perempuan itu, aku masih bisa berjalan bersamanya menuju teras kelas di pagi harinya. Kami suka datang pagi. Hanya kami berdua. Yaah... Di pagi harilah aku bisa bersenda gurau dengannya meskipun hanya berbagi permen yang selalu ia bawa disakunya atau sekedar menanyakan tugas dikelas masing-masing. Perbedaan ruang kelaslah yang memisahkan kami di setiap pagi indah itu.
Suatu saat aku mendengar dari sahabatnya bahwa ia tak lagi bersama dengan perempuan itu. Coba tebak, apakah aku bahagia mendengarnya? Jawabannya tidak! Entah mengapa aku sedih mendengarnya. Aku sedih mendengar hatinya terluka. Sepulang sekolah kusempatkan menuju ruang kelasnya. Setidaknya memberikan dia semangat.
Teman-temanku termasuk sahabatnya yang sengaja kuberitahu tentang perasaanku padanya mencoba untuk menggodaku. Mereka bilang akan memberitahunya tentang bagaimana perasaanku. Aku tahu itu hanya gurauan semata. Namun saat itu aku khawatir. Aku hanya tidak ingin ia mengetahui perasaanku ini dari orang lain.
Malam pertama di bulan Oktober. Ku beranikan diri mengutarakan rimba cinta yang telah tumbuh lebat dalam hatiku. Menjelaskan padanya bagaimana tunas itu datang tanpa alasan dan tumbuh menjadi rimba cinta. Hanya bermaksud mengutarakan bukan untuk memintanya menjadi milikku. Sekali lagi, aku hanya tak ingin dia mendengarnya dari orang lain.
Kalau kalian bertanya lewat apa aku mengutarakannya maka aku menjawab melalui pesan singkat. Aku tidak seberani itu mengutarakannya secara langsung. Bisa-bisa mimisan aku dihadapannya. Itupun syukur-syukur kalau aku tidak pingsan.
