Trilogi

SMARA: TENTANG TUNAS CINTA YANG TUMBUH HINGGA MENJADI RIMBA KERINDUAN (BAGIAN 1)

SMARA: TENTANG TUNAS CINTA YANG TUMBUH HINGGA MENJADI RIMBA KERINDUAN (BAGIAN 1)
Pinterest

Smara ini tumbuh dalam rimba kerinduan. Tentang cinta pertama yang singgah, menetap di hati, lalu pergi meninggalkan ruang sunyi. Aku menuliskannya bukan untuk mengikat masa lalu namun sebagai caraku untuk merawat sekaligus melepaskan. Agar aku bisa pulih sambil tetap mengenang.

Dua belas tahun berlalu. Ingin kuceritakan cinta yang tak pernah sampai namun sangat indah kurasa meski pahit yang harus kutelan. Yaah... Cinta pertama yang berakhir luka. Namun tak pernah sekalipun aku membencinya. Justru aku bersyukur memiliki perasaan ini padanya. Sampai saat ini aku bertanya apakah cinta itu masih ada ataukah hilang bersama dengan dirinya(?) Karena tak bisa kupungkiri bahwa ia telah membentuk ruang tersendiri dalam hati. Dan kisah ini masih tersimpan rapi dalam lubuk hati yang paling dalam.

Tunas Cinta Yang Tumbuh Menjadi Rimba

Tunas itu muncul dan tumbuh saat aku masih dibangku sekolah menengah pertama. Tak ada alasan perasaan itu datang dan tumbuh dalam hatiku. Hanya senang yang kurasa saat aku bersamanya. Rasa-rasanya, cukup ada dirinya maka hidupku terasa bermakna. Dipagi hari, di balkon sekolah saat itu, selalu kutunggu kedatangannya dari balik pagar parkiran sekolah. Hanya melihat dirinya dari kejauhan saja hatiku senang. Sungguh tunas yang aneh bukan(?)

Tunas itu tumbuh semakin liar. Menjalar keseluruh duniaku. Serasa duniaku dipenuhi dengan bunga-bunga indah yang bermekaran. Semangat berangkat sekolah lagi-lagi jadi salah satu alasan bertemu dengan dirinya. Dunia yang ramai ini terasa sepi jika tak bersamanya. Konyol bukan (?) Tapi percayalah hal itu benar kurasa.

Tunas pun akhirnya menjadi rimba. Tak beraturan tumbuhnya. Rasa cemburu muncul saat kutahu bahwa hatinya untuk orang lain. Saat tatapan mata penuh cinta itu harus kulihat tertuju kepada perempuan lain. Terbesit dalam kalbuku “Kapan tatapan mata itu tertuju padaku? Dapatkah aku memilikinya?”

Rimba itu menjadi sangat lebat namun sengaja kusembunyikan darinya. Kucoba sekuat tenaga menyembunyikannya seolah rimba itu tak pernah ada. Aku hanya tak ingin pertemanan ini menjadi canggung. Ditambah lagi perasaannya masih bukan untukku. Jika aku harus menunggu hatinya terbuka untukku maka aku akan menunggu. Selama dia orangnya maka menunggu adalah hal yang paling mudah untukku.

Desir Daisy

Menulis adalah caraku mengungkapkan isi hatiku juga menyembuhkan luka. Kata demi kata menjadi tempatku melepaskan perasaan. Goresannya menyalurkan setiap emosi dalam jiwa. Aku ingin membagikan kisahku tanpa dunia harus menjadi hakim atas diriku