Ruang Baru

Ruang sunyi yang telah lama berdiam perlahan tenggelam dalam lubuk hati paling dalam. Tertimbun oleh waktu meski terkadang sesekali getarannya masih terasa. Saat tanpa sadar hal-hal tentang dirinya memberikan resonansi. Getirnya masih tetap ada tetapi frekuensinya telah berkurang.
Ruang baru pun perlahan hadir. Sama sunyinya namun terasa hampa tanpa rasa. Pintunya tertutup rapat seakan tak ingin merasakan hal yang sama seperti sebelumnya.
Bayangan masa lalu seolah menguasai ruang baru itu meski aku selalu mengelak. Cinta bertepuk sebelah tangan dulu membuatku bertanya "Apakah aku layak untuk dicintai oleh orang yang kucintai?" Atau yang lebih parahnya "Apakah akan ada orang yang mencintaiku?"
Orang yang nantinya akan mengisi ruang baru itu tanpa memberikan luka. Sehingga yang kurawat bukanlah luka, melainkan cinta. Meski aku pun tahu cinta dan luka berkorelasi dengan baik pada kisah hidup manusia.
