Jurnal

Pertemuan Tanpa Titik Temu

Pertemuan Tanpa Titik Temu
© hitammerahjambu

Berjumpa lagi dengannya, seseorang yang pernah diam-diam menarik perhatianku semasa sekolah, bukanlah hal yang bahkan hanya sekelibat mampir di pikiranku. Kali ini, kami dipertemukan semesta dengan sedikit kemajuan tentunya. Yang awalnya hanya sebatas tatapan mata, kini kami bisa saling bercengkrama.

Siapa sangka, orang yang dulu bahkan tidak sekalipun melirik ke arahku, tiba-tiba mengajakku berbicara lebih dulu. Herannya lagi, dia ingat salah satu unggahanku di sosial media yang sudah sangat lama. Tentu saja perasaanku kembali tak terarah sepanjang percakapan kami. Bagaimana bisa aku tidak mengingat satupun unggahan di sosial medianya dari beberapa hari lalu, sementara dia mengingat apa yang aku unggah beberapa bulan lalu? Selama beberapa waktu perbincangan kami, aku mencoba menjaga hati dan nada bicaraku, karena ternyata debaran itu masih ada. Debaran yang kukira telah lama hilang ternyata hanya tertidur lelap, jauh di dalam hati, menunggu saatnya untuk kembali mengutarakan rasa.

Kami berbincang ringan beberapa kali setelahnya. Dan benar saja, hatiku kembali goyah. Seorang teman meyakinkanku untuk mencoba ‘berjudi’ dengan perasaan ini. “Dia adalah orang yang sangat baik, seseorang yang mampu menerima kekurangan orang lain sepenuhnya”, katanya.

Iya benar. Orang yang kembali menarikku saat ini sedang mengagumi seseorang yang lain.

Oh, tidak tidak. Aku tidak keberatan jika dia ingin bersama orang lain. Kalian bertanya tentang perasaanku setelah mengetahui kenyataan itu? Tentu saja aku bahagia. Berbicara dengannya saja bukanlah hal yang bisa sedikitpun pernah terbayang dalam benakku… tapi lihatlah, dia justru mengajakku berbicara lebih dulu. Itu sangat lebih dari cukup!

Dia selalu seperti itu sejak dulu. Tidak peduli siapapun dan apapun yang pasangannya lakukan, jika dia mencintai seseorang, dia akan berikan hatinya dengan utuh. Mencintai dengan sepenuh jiwa, tanpa menimbang apa yang kurang.

Bahkan seseorang yang kini memenuhi hatinya pun, juga ditentang banyak orang. “Semua orang bisa berubah”, katanya.

Jarang sekali aku menemukan orang yang bisa menerima secara utuh sepertinya. Mungkin itu alasan kenapa aku mengaguminya sejak dulu, ketika dia dikecewakan, hingga kini ketika dia kembali hadir di lembar hidupku dengan cerita yang berbeda.

Aku harap banyak orang yang bisa sepertinya, mampu melihat hingga sisi terdalam seseorang, terlepas dari segala kekurangannya. Orang sepertinya sangat langka. Bagaimana mungkin kita yang sulit menerima kekurangan diri sendiri justru bisa menerima kekurangan orang lain? Ternyata bisa, dia buktinya. Itu artinya dirinya sudah penuh. Dan seseorang yang penuh akan dirinya, akan lebih mudah menerima orang lain tanpa prasangka.

Kalian bertanya kenapa aku tidak berjuang? Tentu saja aku mau! Tapi dia sudah punya tujuannya bahkan sebelum kami kembali bertemu. Dan aku bukan orang egois yang ingin memaksakan kehendakku akan hal ini.

Oh, apa kalian pernah dengar konsep tentang cinta sejati? Yah, aku memang bukan pakarnya. Kalian boleh tidak setuju dengan ini. Tapi coba bayangkan: suatu hari pasangan yang sangat kalian cintai berkata bahwa dia ingin menikah dengan sahabat dekat kalian. Apa yang kalian rasakan setelahnya? Sedih? Kesal? Marah?

Dari yang aku pahami, jika cinta yang kalian miliki bukan cinta sejati, kalian pasti merasa sangat terkhianati. Tapi jika cinta yang kalian miliki adalah cinta sejati, merasa sedih itu wajar, kalian akan ikut berbahagia setelahnya. Karena bagi cinta sejati, yang terpenting bukanlah ‘aku’, melainkan kebahagiaan orang yang dicintai. Kalian akan bahagia karena pasangan kalian akhirnya menemukan belahan jiwanya, meski bukan kalian orangnya.

Begitu pula dengan cuplikan hidupku dengannya saat ini. Terlalu berlebihan jika disebut cinta sejati. Namun konsepnya sama: aku hanya ingin berjuang dan mempertahankan ini sampai batas waktu kami selesai. Selesai dalam arti, waktu kami telah habis dan kami kembali asing. Apapun yang dia lakukan, asalkan dia bahagia, akupun bahagia. Begitu pula sebaliknya. Biar semesta saja yang putuskan akan jadi apa kami nantinya setelah banyaknya doa yang kami langitkan dengan tujuan yang berbeda.

Karena yang terpenting bukan bagaimana akhirnya ‘nanti’, melainkan kita yang saat ini ada, sedang apa, dan bersama siapa. Terlalu banyak memikirkan ‘nanti’ sering kali membuat kita lupa menikmati apa yang terjadi sekarang.

Hitam Merah Jambu

Teman bertualang Sandy Cheeks dan Kalkun Ranger.