Jurnal

Ngopi di Latar

Ngopi di Latar

Saya selalu punya rumus yang cukup ribet jika berkunjung ke warung kopi bersama orang lain.

Jika orang tersebut tidak terlalu akrab, maka saya akan memilih warung kopi dengan suasana yang nyaman, atau kopi yang sudah terjamin cocok dengan lidah saya.

.

Namun jika sebaliknya, maka apa pun warungnya, betapapun mengecewakan menunya, bukan jadi masalah.

Adapun rumus lain dengan Adit. Kami punya obrolan yang cukup akrab dan punya selera kopi yang tidak jauh berbeda. Alhasil, kopi apa yang akan dituju, harus disepakati sebelum kami berangkat.

Di Probolinggo, lidah kami sudah cocok dengan cafe latte Kedai Latar. Sesampainya di kasir—dengan sedikit basa basi melihat daftar menu—kami langsung pesan, “Latte 2, Kak. Minum sini”.

Lalu alih-alih nongkrong di warungnya, kami memilih nongkrong di sebrangnya, di emperan ruko Eiger.

Bersama Bung Aris, dulu kami juga nongkrong begini sebelum beliau balik rantau ke Kepulauan Riau.

,

Di antara seruputan kopi dan angin sore Probolinggo, kami menemukan bahwa—pada akhirnya, yang tidak kalah penting dari sebuah pertemuan adalah obrolan yang jujur apa adanya. Kopi enak hanyalah bonus dan jeda kecil dari kehidupan dewasa yang semakin rumit.

Beni Candra

Seorang yang mencoba menggabungkan Fullstack Web Dev dengan kemampuan menulis narasi cerita.