Kita Akan Mati Bersama

Pak Umar mengasah aritnya. Tangan kanan memegang kendali, ganggang digerakan maju mundur. Tangan kiri lihai menekan kepala arit ke batu asah. “Cras-cres” arit dengan batu asah beradu. Air ditetaskan dari atas, arit kembali di dorong pada batu asah. Menyudahi mengasah tidak boleh sembarangan, mengakhiri dengan tarikan ke belakang tajam pada arit tidak akan berlangsung lama. Pak Umar mengakhiri ke depan, sisa air menetas di ujung mata arit. Pantulan sinar matahari membuat arit berkilau.
Ujung telunjuk Pak Umar meniti mata arit, memeriksa tingkat ketajaman. Mata arit mengores bagian luar kulit telunjuk, di telinganya terdengar ‘cres’ artinya aritnya sudah tajam. Pak Umar tidak akan pergi ke Ladang kalau aritnya belum tajam. Karen pergi dengan arit belum tajam sama saja tidak siap berperang.
Pagi ini Pak Umar dan Bu Rumi masih menahan diri untuk berangkat ke ladang karena mendapat firasat akan kedatangan tamu. Bu Rumi meneruskan kesibukannya di dapur, suara alu mendarat di ulu lesung. Biji kopi yang disangrai hitam sudah berubah menjadi serbuk halus. Hanya tinggal menyeduhnya dengan air panas, secangkir kopi bisa dinikmati dan Pak Umar sudah menunggu jatah paginya.
Terdengar ada yang menguluk salam, Pak Umar dan Bu Rumi menghentikan aktivitas masing-masing. Memasang telinga, memastikan. Kembali terdengar, di halaman depan sudah ada Pak Kampong ditemani seorang yang tidak mereka kenal, rambutnya begitu klimis, mengenakan kemeja biru telur asin yang dipadukan dengan celana dongker, terlihat begitu serasi. Garis lipat bekas setrika pada celana dan kemejanya begitu nampak, terlihat rapi. Pundak kananya menyelempang tas dan alas kakinya sepatu hitam mengkilat.
Seperti biasa, prosesi awal pertemuan pasti akan melewati sesi pengenalan diri. Pria yang berpakaian rapi itu ternyata dari Pabrik Kertas Leces. Nama lengkapnya Syamsul Haryono, di name tag-nya lengkap dengan gelarnya namun ke Pak Umar dia tidak menyebutkannya. Pak Umar dan Bu Rumi mencairkan suasana dengan senyum teduhnya. Pak Haryono ialah jawaban yang mereka tunggu, dialah orang yang dimaksud Pak Mulyono tadi malam. Pak Mulyono merupakan orang tua dari Pak Umar tadi malam datang dalam mimpi dan memberikan titah. Bu Rumi juga mendapat titah yang sama untuk menyerahkan tanah mereka ke orang yang datang pagi ini. Tanah itu memang warisan dari Pak Mulyono, begitu luas, kalau dipetakkan bisa menjadi sepuluh lapangan sepak bola.
Pak Umar dan Bu Rumi tanpa ragu sepakat menyerahkan tanahnya meskipun hanya mendapat titah dari mimpi, karena mungkin itu yang terbaik. Bagaimanapun juga ini bentuk bakti kepada Pak Mulyono, orang tua mereka. Tanah seluas itu memang tidak dapat semuanya terurus, saat ini saja yang digarap hanya dua hektar dan itu sudah mencukupi kehidupan mereka. Selain itu mereka tidak mempunya keturunan, bisa saja nanti menyebabkan satu dusun ribut, rebutan tanah. Pak Umar dan Bu Rumi sudah lama menikah, usia penikahannya sudah 27 tahun namun belum juga mendapatkan keturunan. Mereka menikah diusia lima belas tahun, seperti warga desa kebanyakan. Pasangan suami istri di ujung gang yang nikahnya selisih sehari dengan mereka sudah mengemong cucu, sedangkan Pak Umar dan Bu Rumi masih menunggu kehadiran sang buah hati.
Pak Kampong senyumnya begitu lebar, tentunya setelah ini dia akan mendapatkan imbalan dari Pak Haryono. Bisa jadi juga ditambah dari Pak Umar, sebuah balas jasa. Pak Haryono menunggu Pak Umar dan Bu Rumi menyebutkan nominal harga tanahnya. Semakin besar, maka uang untuk Pak Kampong akan mengikuti.
“Kelolah dengan baik saja, Nak.” Pernyataan Pak Umar membingungkan Pak Haryono, Pak Kampong juga memiringkan kepalanya berfikir.
“Kami iklhas dan senang jika tanah kami digunakan untuk kemajuan pabrik.” Bu Rumi mengangguk-angguk setuju dengan yang dikatakan Pak Umar.
Pak Haryono dan Pak Kampong bertatapan, biasanya mereka akan ditarget nominal besar untuk pembebasan lahan pengembangan Pabrik. Namun Pak Umar tidak seperti kebanyakan orang. Dua hari yang lalu saja Pak Haryono hampir disabet arit oleh warga terkait pembebasan tanah juga. Pak Kampong masih heran, dia tidak peduli lagi meskipun umpeti untuk dia hanya dari Pak Haryono nantinya.
Sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan, lambang pabrik dari Pak Umar dan Bu Rumi yang menentukan. Pak Haryono memberikan contoh burung perkutut milik Pak Umar. Nampaknya Pak Haryono tahu perkutut itu kesayangannnya Pak Umar dan Bu Rumi. Nama perkutut itu Agus. Pak Umar dan Bu Rumi sebenarnya tidak terlalu peduli akan lambang pabrik, mereka sudah cukup dengan melaksankanan apa yang dipesankan oleh Pak Mulyono. Tidak ada pilihan lain, Pak Umar dan Bu Rumi menganguk Agus akan dijadikan lambang pabrik. Setidaknya mereka akan melihat Agus dan mengenangnya kalau sudah mati. Agus dirawat selayaknya anak karena hanya burung itu yang mampu menumpu keinginan memiliki buah hati.
Keiklhasan akan mendatangkan keiklhasan juga, Bu Rumi mengandung. Ini hadiah, puluhan tahun mereka nantikan. Pak Umar sujud syukur akan kemurahan Allah untuknya. Kesabaran dan keiklhasan sudah terbayarkan. Proyek pengembangan pabrik di kebut. Susunan kerangkan besi, beton dan cerobong menjulang tinggi.
Proyek dimulai hampir besamaan dengan kabar hamilnya Bu Rumi dan pagi ini juga tibalah waktu peresmian pengembangan pabrik. Presiden meresmikan, ditandai dengan suara suling yang begitu melengking dan turut diikuti lahirnya Muklhlisin anak dari Pak Umar dan Bu Rumi. Warga Leces begitu haru, demikian juga dengan Pak Umar beserta Bu Rumi dengan kehadiran buah hati. Mukhlisin pelengkap dalam keluarga Pak Umar dan Bu Rumi.
Lima tahun berlalu, pabrik berkembang begitu pesat, bahkan sudah menjadi yang terbesar se Asia Tenggara. Banyak orang dari berbagai penjuru Indonesia berdatangan ke Leces menjadi pekerja, masyarakat sekitar turut terserap menjadi tenaga kerja. Perekonomian masyarakat Leces terus melesat. Keluarga kecil Pak Rumi juga semakin bahagia, Mukhlisin berkembang dengan baik dan tingkahnya begitu menggemaskan.
Pak Umar dan Bu Rumi tidak melewatkan momen bersama Muhkhlisin, ke ladang mereka bergantian dan ketika harus bersamaan mereka turut membawa Muklhisin juga. Tidak melewatkan momen dengan Mukhlisisin seharusnya jangan abai ke pendidikannya. Diumur yang kedua belas tahun seharusnya Mukhlisin duduk dibangku kelas satu SMA. Akan tetapi, Muklhisin belum juga masuk dunia pendidikan. Walaupun demikian dia bisa mengaji dan baca tulis, diajari oleh Pak Umar dan Bu Rumi. Tapi Mukhlisin tidak mempunyai Ijazah, tanda bahwasannya pernah menuntut ilmu walaupun belum tentu berilmu. Belum tentu juga berkompeten, tapi ijazah ibarat kartu sakti yang diwajibkan harus dimiliki. Kalau tidak, sulit masuk dunia industri.
Pabrik Kertas Leces memperluas wilayah pemasarannya, ingin menembus pasar Eropa. Produksi dan aspek marketing dilakukan gebrakan. Langkah mengganti kembali logo pabrik ke bentuk semula dilakukan, lambang kepala burung hantu akan terlihat begitu sangar dan mereka yakin pasar Eropa akan mereka cengkram. Agus tidak lagi menjadi lambang perusahaan, patung besar berbentuk perkutut yang berada di depan kantor sudah dirobohkan dan akan diganti burung hantu yang menurut mereka lebih gagah. Semoga demikian.
Pak Umar dan Bu Rumi tidak menyadari, tidak terlalu meperhatikan kalau patung di depan kantor pabrik diganti burung hantu. Tidak butuh lama untuk pabrik kertas Leces mencapai tujuannya, pasar eropa sudah mereka tembus. Orang-orang pabrik bersuka cita, mereka akan lebih sibuk lagi dan upah akan meningkat.
Tumbuh keinginan dari Pak Umar dan Bu Rumi melihat Muklhisin berseragam rapi, mulai kerja waktu suling pabrik dibunyikan demikian dengan pulangnnya. Pak Umar mulai memantau pabrik, mendekat ke pintu gerbang utama dan ditemui oleh Satpam. Informasi yang didapatkan, Pak Umar diminta membawa anaknya ke kantor.
Pak Umar kembali dengan Muklhisin, di depan gerbang utama kembali dia ditemui satpam kemarin. Diminta berkas lamaran mereka, Pak Umar menggeleng karena mereka berdua hanya membawa diri. Akhirnya Pak Umar menyebut nama Pak Haryono, Pak Satpam meminta mereka menunggu dan duduk di kursi dekat pos satpam.
Pak Haryono memang masih ingat nama yang menyumbang tanah untuk pengembangan pabrik, ialah Pak Umar namun dia tidak mempunyai keturunan. Kalau Pak Umar datang dengan seorang anak berarti dia penipu, begitu ungkap Pak Haryono. Karena dianggap orang tidak jelas, Pak Umar dan Mukhlisin diusir oleh Satpam. Tentunya mereka tidak terima, Pak Umar meronta dan mengungkit bawasannya dialah penyumbang terbesar tanah area pabrik. Satpam tidak bergeming dan mendorong Pak Umar beserta Mukhlisin sedikit lebih kencang mejauhi pintu gerbang setinggi empat meret itu. Pak Umar kembali mendekat, tidak ada perubahan, pintu pabrik tertutup rapat untuk mereka. Kedua tangan Pak Umar erat menggenggam selongsong besi gerbang pabrik. “Kita akan mati bersama” Berkata dengan begitu menggigil.
Tidak ada balas budi, tidak ada lagi Pak Umar dan Pabrik turut tidak terdengar lagi suara sulingnya.
Gresik, 23 Oktober 2019
