Cerpen

Belum Ada Judul

Belum Ada Judul
taken by benicandra_ | edited by bromopicture

Kau, akhirnya menikah.

Setelah satu tahun berpisah denganku, kau begitu cepat memutuskan dengan siapa kau akan berlabuh.

Manisku, tujuh tahun aku bersamamu. Segala rupa bahagia dan nestapa kita lalui bersama.

Apakah karena kerjaanku yang tidak berseragam? Atau karena tabunganku yang tidak seberapa? Kudengar suamimu baru saja lulus profesi dan mencicil rumah di Pakuwon City.

Manisku, tidakkah kau ingat mimpi lama kita? Membeli rumah di Permata Jingga, mengitari Suhat, Veteran, sampai Gajayana? Atau sarapan pagi di warung Kerto Sentono, hingga habiskan malam di Sudimoro?

Manisku, ketan candu yang kita sesapi bersama itu kini sudah tiada. Bakso seberang UIN yang mendekatkan kita juga pindah entah ke mana. Serta es campur di Taman Krida yang kita nikmati sebelum Jumatan itu juga sudah berubah.

Harusnya kuselesaikan saja kuliahku waktu itu.

Menjadi pria berseragam seperti impian bapak ibumu. Menjadi calon yang siap meminangmu tanpa khawatir mempertanyakan bagaimana nanti biaya resepsi, biaya persalinan, dan biaya sekolah anak-anak kita kelak.

Lebih baik kutinggalkan saja idealisku menjadi pekerja kreatif sialan itu. Ahh, kurasa itu jauh lebih penting daripada sepotong senja di Sudimoro.

Kau tahu Manisku? Setelah kita berpisah, perasaanku tidak berhenti. Sudah kucoba segala cara untuk membenahi hidupku yang berantakan, dengan harapan, kelak ketika aku mapa, kau bisa kembali padaku.

Aku jual semua kamera dan perlengkapan fotografiku.

Aku pernah mendaftar menjadi sales mobil—setidaknya, pekerjaan itu memakai seragam. Di tengah wawancara mereka bertanya, “Apa visi misi saudara dalam lima tahun ke depan?”

Aku tidak lagi membayangkan diriku lima tahun dari sekarang. Yang kubayangkan adalah bayangan wajahmu sedang tertawa di dalam mobil mewah suamimu. Lagi pula, sungguh ironis sekali menjadi sales mobil padahal aku tidak punya mobil, dan kau sedang berbahagia di mobil suamimu.

Sejak hari itu, Manisku, aku berhenti memaksakan diri. Aku putuskan untuk tinggal di sini. Di Sudimoroyang tidak lagi romantis. Di Kerto Sentono yang sekarang terasa hambar. Aku tidak mencoba menghapusmu.

Aku tahu, Manisku, kau sudah menikah. Aku tahu kau bahagia. Namun mengapa begitu cepat? Mengapa tidak ada obrolan terakhir bersamaku ketika kau akan menikah? Bagaimana cara lelaki itu begitu cepatnya menikahimu?

Aku berhenti bertanya, Manisku. Karena aku tahu, pertanyaan-pertanyaan itu tak akan pernah sampai padamu.

Yang tersisa hanyalah aku, yang bahkan tidak lagi tahu bagaimana caranya menjadi diriku sendiri.

Beni Candra

Seorang yang mencoba menggabungkan Fullstack Web Dev dengan kemampuan menulis narasi cerita.