Jurnal

Bagaimana jika yang kamu inginkan datang tanpa diminta?

Bagaimana jika yang kamu inginkan datang tanpa diminta?
© Unsplash: Europeana

Aku percaya setiap pilihan memiliki jalannya masing-masing. Kalaupun tidak memilih, jalannya barangkali tetap ada, hanya saja, ujungnya akan semakin acak.

Mungkin semua orang senang jika keinginannya datang tanpa diminta. Dalam hidup, aku kerap mendapati hal ini beberapa kali. Kadang disadari lantas mengucap syukur, sering juga ku anggap kebetulan yang tidak beratur.

Seperti waktu itu, aku mengajak sepupuku perempuan ngopi pagi.

Warung kopi yang akan kami sambangi ada di tengah pasar. Nomaden namanya. Warkop ini cukup legendaris di Lowokwaru.

Hari itu, kami adalah pengunjung pertama, suasana pasar yang tidak begitu ramai, dan langit yang sedikit muram. Perpaduan yang pas untuk ngopi, ngobrol, kadang juga melamun.

Sebenarnya, sepupuku ingin pesan cafe latte, tentu saja warkop ini tidak menjual menu itu. Akhirnya dia pesan coklat panas dicelup roti goreng yang kami beli sebelumnya.

Untuk itu, aku sampaikan padanya, ‘kalau masih mau cafe latte, nanti kita mampir beli’.

Namun jawabnya, ‘ini aja sudah cukup, coklatnya enak!’.

‘yaudah, habis ini kita sarapan, kamu yang pilih tempatnya ya!’, kataku.

Tentu, untuk sarapan, aku sudah punya pilihanku sendiri, yaitu Depot 2 Legenda. Namun, mengutarakan pilihan itu saat ini rasanya terlalu egois. Sepupuku sudah bersedia meluangkan waktunya untuk ngopi pagi, sedang pesanan yang diinginkan tidak dijual. Maka, biar dia saja yang memilih sarapan, toh pergi ke Depot 2 Legenda bisa lain waktu.

Oh ya, kami sempat mengabari satu kawan kami yang sudah kami anggap ‘Mbak’ untuk sarapan bersama. Sepupuku bilang, ‘bagaimana biar Mbak saja yang memilih tempat sarapan?’, karena kebetulan, setelah kami ngopi, kami harus ke daerah Sawojajar—yang juga daerah rumah Mbak—untuk mengambil titipan sepupuku. Menurutnya, Mbak lebih tau makanan enak di daerah sana.

Baiklah, sembari menunggu kepastian tempat sarapan, kami berangkat ke Sawojajar. Setelahnya, Mbak menetapkan pilihan untuk sarapan di coffee shop, karena selain sarapan, beliau juga pengen ngopi.

Aku tidak bertanya detail ke sepupuku perihal coffee shop apa yang akan dituju. Aku fokus untuk mengendarai sepeda motor, sedang sepupuku memastikan rute maps agar kami tidak tersasar.

Dan sampailah kami ke tempat sarapan tujuan, yaitu, “Jaya Bersama Dan Melegenda” atau disingkat JBDM.

Ya Ampun!

JBDM sendiri adalah kolaborasi makanan dari Depot 2 Legenda dan minuman dari Toko Kopi Jaya.

Nah, tuh!

Di depan kasir, aku cukup lama termenung memandangi menu makanan. Bagaimana bisa. Pilihan sarapan di Depot 2 Legenda yang tidak pernah aku utarakan itu, yang dimana aku menyuruh sepupuku untuk memilih tempat, sedang dia juga melempar pilihan itu ke Mbak, dimana ratusan atau bahkan ribuan kemungkinan akan terjadi, bahkan ada banyak sekali pilihan tempat sarapan di kota Malang, bagaimana bisa tempat ini yang dipilih?

Ah! Kalau boleh mengutip kata Fiersa Besari, barangkali inilah yang disebut Konspirasi Alam Semesta!

Mungkin waktu itu Depot 2 Legenda adalah pilihan yang kurang bijak, akhirnya Semesta memberikan pilihan yang jauh-jauh lebih baik. Menu makanan yang sama dengan Depot, tempat yang dekat dengan rumah Mbak, dan di sini sepupuku bisa memesan cafe lattee!

Ternyata pilihan yang tidak kupilih itu berakhir dengan ujung jalan yang baik. Tentu tidak memilih, bukan berarti tidak mempunyai pilihan.

Justru perasaan ikhlas untuk tidak memilih demi orang terdekat itulah yang membawa ke sini.

Semesta terlalu baik hari itu. Atau mungkin ia memang baik? Atau sudut pandang kita yang terkadang luput mengartikan maksud?

Begitulah.

Sekali waktu, cobalah caraku ini. Jika kamu bersama orang terdekatmu atau yang terkasih, cobalah untuk memahami mereka, jangan berlomba meninggikan ego.

Barangkali kebaikan bermuara dari sana.

Beni Candra

Seorang yang mencoba menggabungkan Fullstack Web Dev dengan kemampuan menulis narasi cerita.