Esai

Babak Baru Perkopian Leces: Ruang Publik Alternatif atau Ilusi Skena Urban?

Babak Baru Perkopian Leces: Ruang Publik Alternatif atau Ilusi Skena Urban?
@ unsplash: Amsterdam City Archives

Di tengah laju urbanisasi yang agresif, kebudayaan kota selalu punya cara untuk menginvasi ruang-ruang perdesaan. Pertanyaan mengenai sejauh mana modernitas urban mendikte gaya hidup masyarakat bawah, sering kali dijawab dengan lahirnya anomali di tingkat akar rumput.

Di Leces, fenomena ini terwujud nyata lewat munculnya kedai kopi dengan konsep yang modern. Tempat ini bukan lagi sekadar warung kopi saset biasa, melainkan ruang baru yang menawarkan kopi racikan sendiri, pemutaran film, panggung musik, hingga bedah buku. Tanpa campur tangan birokrasi desa, gerakan swadaya anak muda ini sepintas tampak seperti simbol otonomi budaya lokal yang ideal.

Namun, benarkah demikian?

Sebelum jauh membahas, mari kita tarik secara objektif terlebih dahulu. Tentu saja tidak ada yang salah dengan komersialisasi. Kedai kopi, pada hakikatnya adalah entitas bisnis yang sah-sah saja mencari keuntungan ekonomi dan popularitas pasar. Pemiliknya pun tidak pernah melabeli tempat mereka dengan jargon-jargon mulia seperti penyelamat literasi atau pahlawan kebudayaan. Mereka hanya berbisnis dan menciptakan ruang komersial yang organik.

Namun, secara sosiologis, dinamika ruang berubah ketika aktivitas di dalamnya melibatkan agenda spesifik seperti bedah buku, pemutaran film, dan panggung musik. Di titik inilah benturan kultural itu terjadi tanpa sengaja. Format acara yang diadopsi dari kultur kota ini secara tidak langsung menyaring siapa yang bisa masuk dan siapa yang merasa asing.

Ketika obrolan warung yang lepas digantikan oleh koridor tertib bernama "diskusi", ruang publik yang awalnya netral berubah menjadi ekosistem yang eksklusif. Menghakimi anak-anak muda pengelola ini sebagai kelompok elitis yang sok kota tentu merupakan kesimpulan yang keliru. Pun menghakimi mereka yang tidak mampu berdiskusi merupakan kesimpulan yang tidak adil juga tidak kalah keliru.

Yang terjadi sebenarnya adalah sebuah gejala dari penyakit struktural yang lebih besar: hilangnya imajinasi ruang publik di perdesaan. Anak-anak muda ini terpaksa mengimpor kultur skena dari kota bukan karena mereka arogan, melainkan desa telah gagal menyediakan narasi dan ruang ekspresi yang relevan. Mereka bergerak mandiri bukan semata-mata karena ingin otonom, tetapi karena mereka mengalami alienasi atau keterasingan di tanah kelahiran mereka sendiri.

Meski demikian, imajinasi urban yang diimpor itu membawa konsekuensi.

Ketika ruang publik baru ini hanya bisa diakses dan dipahami melalui bahasa urban, maka pertanyaannya bukan apakah kegiatan-kegiatan ini salah atau tidak. Melainkan, apakah kehadiran mereka menandakan kehidupan yang baru, atau hanya ilusi gaya urban yang semakin memisahkan diri dari denyut nadi kemiskinan dan persoalan riil masyarakat desa? Apakah ini adalah bentuk festival rakyat yang inklusif, atau hanya kosmetik urban yang terlihat progressive tapi sebenarnya memperdalam fragmentasi sosial?

Karena pada akhirnya, babak baru perkopian Leces bukan sekadar tentang warung kopi. Ia adalah cerminan dari pertanyaan yang lebih besar: apakah modernisasi perdesaan harus selalu berarti adopsi bahasa urban? Atau mungkinkah ada cara untuk berkembang tanpa meninggalkan persoalan yang sesungguhnya?

=================

Tulisan ini terinspirasi dari essay Bagus Muljadi, “Utang Budi atau Investasi Bangsa? Kekeliruan Membaca LPDP”, juga tamparan keras kepada diri sendiri selaku penyumbang gaya hidup urban di perdesaan.

Beni Candra

Fullstack Developer & Storyteller